GRESIK - Sekitar 500 ancak berjajar dari empat penjuru mata angin di perempatan Dusun Betiring, Desa Banjarsari, Kecamatan Cerme, Gresik. Ancak-ancak tersebut digunakan untuk acara puncak sedekah bumi. Tiap setahun sekali, warga desa yang terletak sekitar setengah km dari Kantor Pemkab Gresik itu selalu menghelat ritual sedekah bumi.
Nah, kemarin (26/11) bertepatan dengan 27 Dulkangidah (Selo, penanggalan Jawa) yang merupakan hari istimewa bagi warga Dusun Betiring. Pada hari yang diyakini keramat itu, tak satu pun warga berani turun ke sawah. Bahkan, beberapa warga yang berstatus pegawai pun memilih meliburkan diri.
Maklum, hari itu mereka bergotong royong melaksanakan sedekah bumi. Suasana gotong royong memang sangat lekat dalam masyarakat Betiring.
Ritual sedekah bumi diartikan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Selain warga, acara itu dihadiri Bupati Gresik Robbach Ma’sum bersama beberapa pejabat dan tokoh masyarakat setempat.
Beberapa pengunjung dari luar, yaitu keluarga jauh warga Betiring, juga ikut memeriahkan ritual tersebut. “Kendati masyarakat saat ini sedang kesulitan mendapatkan pupuk, alhamdulillah sedekah bumi ini tetap dapat dilaksanakan. Ini menandakan rasa gotong-royong warga Betiring sangat kuat” ujar Robbach. (pra/ib)
Radar Gresik.
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Mei 2009
Perayaan Tradisi Sedekah Bumi ala Dusun Betiring, Desa Banjarsari, Kecamatan Cerme
Arak Ancak dan Pusaka sebagai Lambang Syukur
Masyarakat Dusun Betiring, Desa Banjarsari, Kecamatan Cerme, punya cara unik untuk mensyukuri rezeki dari bumi tempat mereka tinggal. Mereka mengadakan sedekah bumi. Tradisi itu dilakukan dengan berbagai acara khas.
SISWOKO, Gresik
Sabtu (8/12) pagi, bertepatan dengan 27 Dzulkaidah atau Selo (Jawa, Red), 480 ancak (tandu kayu) berjajar di Balai Dusun Betiring. Jumlah ancak itu sekaligus mewakili total kepala keluarga dusun yang berjarak sekitar 7 kilometer dari Kota Gresik tersebut. Isinya berbagai makanan, mulai buah hingga jajanan yang dilengkapi hiasan.
Setiap ancak selalu dihiasi rengginang (sejenis kerupuk) sepanjang sekitar 1 meter. Bentuknya dibuat menyerupai tanduk kerbau dan diletakkan di pojok ancak. Sebagai tempat makanan, ancak itu tergolong sangat besar sehingga perlu diusung beberapa orang ke tempat upacara.
“Ada pula yang harus diangkut dengan mobil,” kata Toyibin, ketua panitia sedekah bumi. Setiap ancak menghabiskan biaya Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu. Beberapa warga bahkan rela merogoh kantong hingga Rp 1 juta untuk membuatnya. “Bukan untuk jorjoran atau pamer. Itu lebih bermakna syukur agar rezeki melimpah,” tambahnya.
Sebelum puncak acara Sabtu pagi, Ki Priambodo, 65, sesepuh sekaligus kepala dusun setempat, menabuh bendhe pusaka Among Projo. Yaitu, gong kecil untuk mengumpulkan masyarakat desa.
Setelah masyarakat berkumpul, Ki Priambodo membuka payung pusaka bernama Tunggul Rekso. Payung dan bendhe itu diarak berkeliling kampung sambil membaca salawat nabi. Arak-arakan berakhir di tempat acara hajatan (selamatan).
Konon, kedua benda pusaka itu hadiah dari Kanjeng Ngabehi Tumenggung Pusponegoro (bupati pertama Gresik pada 1617 Masehi). Jadi, pusaka bendhe dan payung itu sudah berumur ratusan tahun.
“Untuk menghormati Ki Pusponegoro yang makamnya ada di Kompleks Pemakaman Maulana Malik Ibrahim, hadiah itu kami pakai sebagai kelengkapan sedekah bumi,” ujar Ki Priambodo.
Menurut dia, tradisi sedekah bumi memang tidak lepas dari kegiatan spiritual. Sebelum acara Sabtu, warga berziarah ke makam leluhur masyarakat setempat, yaitu makam Kiai Ageng Betiring dan Makam Sunan Giri. Warga, khususnya yang laki-laki, berziarah ke makam setempat yang diberi nama kulahan. (roz)
Radar Gresik
Masyarakat Dusun Betiring, Desa Banjarsari, Kecamatan Cerme, punya cara unik untuk mensyukuri rezeki dari bumi tempat mereka tinggal. Mereka mengadakan sedekah bumi. Tradisi itu dilakukan dengan berbagai acara khas.
SISWOKO, Gresik
Sabtu (8/12) pagi, bertepatan dengan 27 Dzulkaidah atau Selo (Jawa, Red), 480 ancak (tandu kayu) berjajar di Balai Dusun Betiring. Jumlah ancak itu sekaligus mewakili total kepala keluarga dusun yang berjarak sekitar 7 kilometer dari Kota Gresik tersebut. Isinya berbagai makanan, mulai buah hingga jajanan yang dilengkapi hiasan.
Setiap ancak selalu dihiasi rengginang (sejenis kerupuk) sepanjang sekitar 1 meter. Bentuknya dibuat menyerupai tanduk kerbau dan diletakkan di pojok ancak. Sebagai tempat makanan, ancak itu tergolong sangat besar sehingga perlu diusung beberapa orang ke tempat upacara.
“Ada pula yang harus diangkut dengan mobil,” kata Toyibin, ketua panitia sedekah bumi. Setiap ancak menghabiskan biaya Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu. Beberapa warga bahkan rela merogoh kantong hingga Rp 1 juta untuk membuatnya. “Bukan untuk jorjoran atau pamer. Itu lebih bermakna syukur agar rezeki melimpah,” tambahnya.
Sebelum puncak acara Sabtu pagi, Ki Priambodo, 65, sesepuh sekaligus kepala dusun setempat, menabuh bendhe pusaka Among Projo. Yaitu, gong kecil untuk mengumpulkan masyarakat desa.
Setelah masyarakat berkumpul, Ki Priambodo membuka payung pusaka bernama Tunggul Rekso. Payung dan bendhe itu diarak berkeliling kampung sambil membaca salawat nabi. Arak-arakan berakhir di tempat acara hajatan (selamatan).
Konon, kedua benda pusaka itu hadiah dari Kanjeng Ngabehi Tumenggung Pusponegoro (bupati pertama Gresik pada 1617 Masehi). Jadi, pusaka bendhe dan payung itu sudah berumur ratusan tahun.
“Untuk menghormati Ki Pusponegoro yang makamnya ada di Kompleks Pemakaman Maulana Malik Ibrahim, hadiah itu kami pakai sebagai kelengkapan sedekah bumi,” ujar Ki Priambodo.
Menurut dia, tradisi sedekah bumi memang tidak lepas dari kegiatan spiritual. Sebelum acara Sabtu, warga berziarah ke makam leluhur masyarakat setempat, yaitu makam Kiai Ageng Betiring dan Makam Sunan Giri. Warga, khususnya yang laki-laki, berziarah ke makam setempat yang diberi nama kulahan. (roz)
Radar Gresik
Sabtu, 02 Mei 2009
Lelang Bandeng, Tradisi Malam Songolikuran Ramadan di Gresik
Bandeng Petambak Langka, Diganti Bandeng Kawak Pedagang
Prosesi lelang bandeng Gresik berlangsung meriah tadi malam. Tradisi tahunan setiap malam songolikuran (malam 29) Ramadan itu terus dipertahankan.
CHUSNUL CAHYADI, Gresik
BANDENG Mengare, sebuah pulau di Kabupaten Gresik, masih terkenal kelezatannya. Rasanya gurih dan tidak bau tanah. Bandeng Mangare dari Kecamatan Bungah dikenal luas hingga ke luar daerah.
Pulau Mangare terdiri atas tiga desa, yakni Tanjungwidoro, Kramat, dan Watuagung. Hampir 100 persen warganya petani bandeng dan udang windu. Kali terakhir, petambak Mengare turut meramaikan lelang bandeng 2003 lalu. Dia adalah H Sirajudin Munir, 43.
Waktu itu, pria asal Desa Tanjungwidoro, Kecamatan Bungah, tersebut membawa dua ekor bandeng masing-masing seberat 8,6 dan 7 kilogram. Bandeng itu hasil penangkaran 7 hingga 8 tahun. Dua bandeng tersebut laku dengan harga melangit, yaitu Rp 15 juta dan Rp 9 juta. Lelang bandeng pun begitu semarak bagi para petani tambak.
Namun, seiring dengan perkembangan waktu, lelang bandeng seperti hanya jadi rutinitas tahunan. Dalam tigatahun belakangan, mulai 2004, bandeng kawak yang dilelang bukan milik petambak, melainkan pedagang ikan.
Itu terlihat pada lelang bandeng pada 2005 dan 2006. Sebagian bandeng yang dilelang bahkan tidak diketahuimilik siapa. Akibatnya, harga bandeng kawak pun anjlok.
Kondisi itu, rupanya, masih berlangsung hingga sekarang. Tahun ini, lelang bandeng digelar di depan Pertokoan Multisarana Plaza Jl Gubernur Suryo. Ada dua bandeng kawak yang menjadi primadona.
Yakni, bandeng seberat 12,86 kilogram dan 7,86 kilogram. Kedua bandeng kawak itu, kata panitia lelang, juga milik pedagang ikan, bukan petani tambak.
Kepala Bagian Humas Pemkab Gresik Mighfar Syukur mengatakan, tradisi pasar dan lelang bandeng itu mulai ada saat Kanjeng Sunan Giri (Maulana Ainul Yaqin), salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa yang makamnya di bukit Giri Jl Sunan Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik.
Setiap bulan puasa, terang Mighfar, banyak santri yang datang ke Giri Kedaton untuk belajar ilmu agama. Ketika menjelang Idul Fitri, sebelum pulang ke daerah, para santri menyempatkan diri berbelanja oleh-oleh.
Tradisi itu terus menyebar sehingga para pedagang bandeng dari luar daerah banyak mengadu nasib menjual bandeng di Gresik menjelang Idul Fitri. Tradisi tersebut terus berlanjut sampai sekarang.
Budayawan Gresik Umar Zainuddin punya gagasan lebih besar. Menurut dia, lelang bandeng bisa menjadi wadah para pengusaha kecil Gresik untuk memasarkan hasil karyanya kepada masyarakat. Harapannya, mereka bisa mendapatkan rezeki pasar bandeng itu. Tradisi lelang bandeng tersebut juga bisa menjadi sarana memperkenalkan wisata.
Pada even tahunan itu, bisa disuguhkan aneka makanan dan kerajinan, ciri khas Gresik. Karena itulah, Umar Zainuddin bersama sejumlah budayawan Gresik lain sedang menggagas pasar jajan khas Gresik. “Budayawan dan pengusaha sudah menyatakan siap membiayai even ini,” tandasnya. Rencananya, pasar jajan khas Gresik itu dihelat di Kampung Kemasan, Jl Nyai Ageng Arem, Gresik. (*)
Radar Gresik.
Prosesi lelang bandeng Gresik berlangsung meriah tadi malam. Tradisi tahunan setiap malam songolikuran (malam 29) Ramadan itu terus dipertahankan.
CHUSNUL CAHYADI, Gresik
BANDENG Mengare, sebuah pulau di Kabupaten Gresik, masih terkenal kelezatannya. Rasanya gurih dan tidak bau tanah. Bandeng Mangare dari Kecamatan Bungah dikenal luas hingga ke luar daerah.
Pulau Mangare terdiri atas tiga desa, yakni Tanjungwidoro, Kramat, dan Watuagung. Hampir 100 persen warganya petani bandeng dan udang windu. Kali terakhir, petambak Mengare turut meramaikan lelang bandeng 2003 lalu. Dia adalah H Sirajudin Munir, 43.
Waktu itu, pria asal Desa Tanjungwidoro, Kecamatan Bungah, tersebut membawa dua ekor bandeng masing-masing seberat 8,6 dan 7 kilogram. Bandeng itu hasil penangkaran 7 hingga 8 tahun. Dua bandeng tersebut laku dengan harga melangit, yaitu Rp 15 juta dan Rp 9 juta. Lelang bandeng pun begitu semarak bagi para petani tambak.
Namun, seiring dengan perkembangan waktu, lelang bandeng seperti hanya jadi rutinitas tahunan. Dalam tigatahun belakangan, mulai 2004, bandeng kawak yang dilelang bukan milik petambak, melainkan pedagang ikan.
Itu terlihat pada lelang bandeng pada 2005 dan 2006. Sebagian bandeng yang dilelang bahkan tidak diketahuimilik siapa. Akibatnya, harga bandeng kawak pun anjlok.
Kondisi itu, rupanya, masih berlangsung hingga sekarang. Tahun ini, lelang bandeng digelar di depan Pertokoan Multisarana Plaza Jl Gubernur Suryo. Ada dua bandeng kawak yang menjadi primadona.
Yakni, bandeng seberat 12,86 kilogram dan 7,86 kilogram. Kedua bandeng kawak itu, kata panitia lelang, juga milik pedagang ikan, bukan petani tambak.
Kepala Bagian Humas Pemkab Gresik Mighfar Syukur mengatakan, tradisi pasar dan lelang bandeng itu mulai ada saat Kanjeng Sunan Giri (Maulana Ainul Yaqin), salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa yang makamnya di bukit Giri Jl Sunan Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik.
Setiap bulan puasa, terang Mighfar, banyak santri yang datang ke Giri Kedaton untuk belajar ilmu agama. Ketika menjelang Idul Fitri, sebelum pulang ke daerah, para santri menyempatkan diri berbelanja oleh-oleh.
Tradisi itu terus menyebar sehingga para pedagang bandeng dari luar daerah banyak mengadu nasib menjual bandeng di Gresik menjelang Idul Fitri. Tradisi tersebut terus berlanjut sampai sekarang.
Budayawan Gresik Umar Zainuddin punya gagasan lebih besar. Menurut dia, lelang bandeng bisa menjadi wadah para pengusaha kecil Gresik untuk memasarkan hasil karyanya kepada masyarakat. Harapannya, mereka bisa mendapatkan rezeki pasar bandeng itu. Tradisi lelang bandeng tersebut juga bisa menjadi sarana memperkenalkan wisata.
Pada even tahunan itu, bisa disuguhkan aneka makanan dan kerajinan, ciri khas Gresik. Karena itulah, Umar Zainuddin bersama sejumlah budayawan Gresik lain sedang menggagas pasar jajan khas Gresik. “Budayawan dan pengusaha sudah menyatakan siap membiayai even ini,” tandasnya. Rencananya, pasar jajan khas Gresik itu dihelat di Kampung Kemasan, Jl Nyai Ageng Arem, Gresik. (*)
Radar Gresik.
Kamis, 30 April 2009
Ketupat Ketheg, Makanan Khas dari Kampung Giri
Lebih Gurih karena Dimasak dengan Air Sumur Minyak
Warga Kampung Giri, Kecamatan Kebomas, punya ketupat khas. Tidak seperti ketupat yang biasa disajikan dalam suasana Lebaran, ketupat Giri boleh dibilang istimewa, baik cara memasak maupun rasanya. Seperti apa kekhasannya?
CHUSNUL CAHYADI, Gresik
Sepintas, ketupat buatan warga Kampung Giri ini mirip dengan ketupat lain, dibungkus anyaman daun janur. Tetapi, kalau diteliti, akan ditemui banyak perbedaan. Ketupat Kampung Giri ini lebih gurih dan lengket ditangan. Warnanya pun beda, bukan putih, melainkan kehijauan. Bahan ketupat bukan beras, melainkan campuran beras dan ketan.
Yang membedakan, air untuk memasak ketupat ini bukan air yang lazim untuk memasak. Ketupat umumnya dimasak dengan air sumur, PDAM, atau air isi ulang. Namun, ketupat dari Kampung Giri dimasak dengan air sumur yang mengandung minyak. Warga setempat biasa menyebut lanthung karena warnanya kehitaman.
Di Kampung Giri, hanya ada empat sumur. Semuanya berada di Desa Sekarkurung, Kecamatan Kebomas. Airnya sedikit keruh karena memang bercampur dengan minyak. “Karena itulah, kami menamakan ketupat di sini ketupat ketheg. Airnya bercampur minyak,” kata Muhlas Yusli Saputra, pemuda Desa Giri.
Menurut dia, sumur ketheg ada sejak zaman Belanda dan waktu itu digunakan untuk kegiatan eksploitasi minyak. Setelah merdeka, sumur tersebut dikuasai warga secara turun-menurun. “Warga masih mengambil minyak mentah di dalam sumur untuk kebutuhan sendiri. Salah satunya digunakan untuk merendam dan memasak ketupat ketheg,” jelas Muhlas.
Muhlas menambahkan, meski air untuk memasak terdapat campuran lanthung, dia mengaku belum pernah mendengar ada warga yang keracunan gara-gara makan ketupat ketheg. Juga, belum ada informasi orang sakit karena makan ketupat khas ini. “Yang ada justru banyak warga luar Giri yang datang ke sini untuk mencicipi,” jelas dia.
Fatimah, warga Desa Sekarkurung, menyebutkan, proses membuat ketupat ketheg tidak ubahnya membuat ketupat biasa. Sebelumnya, harus disiapkan anyaman janur berbentuk ketupat yang kemudian direndam di dalam air sumur ketheg.
Sementara, isi ketupat adonannya seperti biasa. Beras atau beras ketan dicuci dengan air sumur ketheg hingga beberapa kali. “Setelah selesai, air dibuang. Kemudian, beras ketan dimasukkan ke dalam bungkusan ketupat yang sudah ditiriskan. Selesai membungkus, ketupat siap dimasak dalam air ketheg hingga enam jam,”kata dia.
Setelah masak, ketupat ditiriskan dan digantung untuk diangin-anginkan agar isinya keset atau tidak lembek. Karena dicuci, direndam, dan direbus dengan air sumur ketheg, wujud ketupat ketheg tidak sebersih ketupat biasa. Warnanya kecokelat-cokelatan mirip warna air lanthung di dalam sumur.
Soal rasanya, Imam Suyitno, warga Surabaya, yang memiliki saudara di Sekarkurung, mengatakan jauh lebih enak daripada ketupat biasa. “Enak, baunya khas agak wangi. Rasanya juga gurih seperti ada campuran rempah-rempahnya,” kata dia.
Menurut Imam, dimakan langsung pun rasa ketupat ketheg sangat enak. Apalagi, dimakan dengan sayur lodeh dan opor ayam serta sambal goreng ati. “Silakan coba, saya saja habis dua bungkus,” tutur Imam menawarkan. Ketupat ketheg ini tidak hanya jadi suguhan Lebaran. Namun, di hari biasa juga bisa ditemui di lokasi Wisata Religi Sunan Giri. (*)
Radar Gresik
Warga Kampung Giri, Kecamatan Kebomas, punya ketupat khas. Tidak seperti ketupat yang biasa disajikan dalam suasana Lebaran, ketupat Giri boleh dibilang istimewa, baik cara memasak maupun rasanya. Seperti apa kekhasannya?
CHUSNUL CAHYADI, Gresik
Sepintas, ketupat buatan warga Kampung Giri ini mirip dengan ketupat lain, dibungkus anyaman daun janur. Tetapi, kalau diteliti, akan ditemui banyak perbedaan. Ketupat Kampung Giri ini lebih gurih dan lengket ditangan. Warnanya pun beda, bukan putih, melainkan kehijauan. Bahan ketupat bukan beras, melainkan campuran beras dan ketan.
Yang membedakan, air untuk memasak ketupat ini bukan air yang lazim untuk memasak. Ketupat umumnya dimasak dengan air sumur, PDAM, atau air isi ulang. Namun, ketupat dari Kampung Giri dimasak dengan air sumur yang mengandung minyak. Warga setempat biasa menyebut lanthung karena warnanya kehitaman.
Di Kampung Giri, hanya ada empat sumur. Semuanya berada di Desa Sekarkurung, Kecamatan Kebomas. Airnya sedikit keruh karena memang bercampur dengan minyak. “Karena itulah, kami menamakan ketupat di sini ketupat ketheg. Airnya bercampur minyak,” kata Muhlas Yusli Saputra, pemuda Desa Giri.
Menurut dia, sumur ketheg ada sejak zaman Belanda dan waktu itu digunakan untuk kegiatan eksploitasi minyak. Setelah merdeka, sumur tersebut dikuasai warga secara turun-menurun. “Warga masih mengambil minyak mentah di dalam sumur untuk kebutuhan sendiri. Salah satunya digunakan untuk merendam dan memasak ketupat ketheg,” jelas Muhlas.
Muhlas menambahkan, meski air untuk memasak terdapat campuran lanthung, dia mengaku belum pernah mendengar ada warga yang keracunan gara-gara makan ketupat ketheg. Juga, belum ada informasi orang sakit karena makan ketupat khas ini. “Yang ada justru banyak warga luar Giri yang datang ke sini untuk mencicipi,” jelas dia.
Fatimah, warga Desa Sekarkurung, menyebutkan, proses membuat ketupat ketheg tidak ubahnya membuat ketupat biasa. Sebelumnya, harus disiapkan anyaman janur berbentuk ketupat yang kemudian direndam di dalam air sumur ketheg.
Sementara, isi ketupat adonannya seperti biasa. Beras atau beras ketan dicuci dengan air sumur ketheg hingga beberapa kali. “Setelah selesai, air dibuang. Kemudian, beras ketan dimasukkan ke dalam bungkusan ketupat yang sudah ditiriskan. Selesai membungkus, ketupat siap dimasak dalam air ketheg hingga enam jam,”kata dia.
Setelah masak, ketupat ditiriskan dan digantung untuk diangin-anginkan agar isinya keset atau tidak lembek. Karena dicuci, direndam, dan direbus dengan air sumur ketheg, wujud ketupat ketheg tidak sebersih ketupat biasa. Warnanya kecokelat-cokelatan mirip warna air lanthung di dalam sumur.
Soal rasanya, Imam Suyitno, warga Surabaya, yang memiliki saudara di Sekarkurung, mengatakan jauh lebih enak daripada ketupat biasa. “Enak, baunya khas agak wangi. Rasanya juga gurih seperti ada campuran rempah-rempahnya,” kata dia.
Menurut Imam, dimakan langsung pun rasa ketupat ketheg sangat enak. Apalagi, dimakan dengan sayur lodeh dan opor ayam serta sambal goreng ati. “Silakan coba, saya saja habis dua bungkus,” tutur Imam menawarkan. Ketupat ketheg ini tidak hanya jadi suguhan Lebaran. Namun, di hari biasa juga bisa ditemui di lokasi Wisata Religi Sunan Giri. (*)
Radar Gresik
Senin, 27 April 2009
Malam Selawe dan Malam Songolikur di Gresik
Ngomong - ngomong ramadhan pasti tidak akan lepas dari tradisi dan budaya dimasing - masing daerah. Dan juga pastinya selalu akan jadi pedebatan karena ditakutkan mendekati syirik. Dan kebetulan lagi di gresik kalau bulan ramadhan tak pernah lepas dari malam 25 dan malam 29 yang dah turun temurun sejak jaman Sunan Giri.Malam selawe alias 25 ,adalah puncak malam dimana orang - orang melakukan itikaf dan memburu Lailatul Qodar dengan berziarah ke makam Sunan Giri di desa Giri kecamatan Kebomas Gresik. Biasanya dimulai malam likuran yaitu malam ke 21. Entah bagaimana asal - usulnya tradisi malam selawe di Sunan Giri ini karena ga ada penjelasan yang pasti. Sepertinya cerita dari mulut ke mulut yang ditambahkan bumbu - bumbu selalu berkembang menjadi budaya dan tradisi merakyat. Ratusan pedagang berjajar - jajar sepanjang jalan Sunan Giri hingga Makam Sunan Giri. Sebenarnya para pedagang sudah membuka stan sejak pertengahan ramadhan tapi puncaknya ya malam selawe. Banyak sekali yang ditawarkan para pedagang kagetan mulai makanan, pakaian, celengan dari tanah liat, kopiah , furniture, vas bunga, mainan dll. Kebetulan sekali rumah saya di gresik jadi dah terbiasa hahahaha.
Pasar dan lelang bandeng biasanya pada malam songolikuran alias ke 29. Tradisi pasar bandeng itu mulai ada sejak jaman Sunan Giri. Setiap bulan puasa banyak santri yang datang ke Giri Kedaton untuk belajar ilmu agama. Ketika menjelang Idul Fitri, sebelum pulang ke daerah, para santri menyempatkan diri berbelanja oleh-oleh. Tradisi itu terus menyebar sehingga para pedagang bandeng dari luar daerah banyak mengadu nasib menjual bandeng di Gresik menjelang Idul Fitri. sedangkan tradisi lelang bandeng memang bermula dari kebiasaan masyarakat Gresik yang memiliki kepercayaan bahwa bandeng itu juga melambangkan prestise seseorang di dalam masyarakat, maka dari itu banyak masyarakat Gresik memakan bandeng, terutama menjelang hari raya, makin besar bandengnya maka semakin tinggi pula prestisenya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi karena jumlah bandeng yang berukuran besar semakin berkurang maka diadakan lah lelang. Bandeng yang dilelang hanya bandeng yang mempunyai ukuran kawak yakni bandeng dengan ukuran yang besar. Yang pernah saya temui bandeng terbesar saat itu berat nya 5, 3 kg. Sedangkan bandeng yang di lelang besarnya mencapai lebih dari 10 kg.Sumber:Leah
Langganan:
Postingan (Atom)